Tampilkan postingan dengan label huquuqul aulaad alal abaa wal ummahaat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label huquuqul aulaad alal abaa wal ummahaat. Tampilkan semua postingan

3 Des 2014

HAK ANAK

 Kitab : Huququl Awlad Álal Abaa wa Ummahat

(Muallif: Syeikh  Dr. Abdullah Al Bukhari)
 
 
Diterjemahkan Oleh:
Ustadzah Ummu Abdillah Zainab binti Ali
(Ma'had As Sunnah Malang)

Anak merupakan nikmat terbesar yang wajib disyukuri dan wajib pula diberikan hak-hak anak. Adapun hak-hak anak terbagi menjadi dua:
  1.  Hak sebelum kelahiran anak
  2.  Hak setelah kelahiran anak di dunia 
 

HAK ANAK SEBELUM KELAHIRANNYA

PERTAMA:

Hendaklah bapaknya orang shalih sehingga bermanfaat untuk anak-anaknya bi idznillaah sebagaimana yang lalu telah dijelaskan.

Termasuk juga disini agar mencari istri shalihah yang kelak menjadi ibu yang shalihah karena ibu yang shalihah akan menjadi dasar pemula yang mendidik anak, guru pertama bagi anak-anak.

Maka suami yang cerdas akan memilih tanah ladang yang bagus untuk menanamkan benih dengan harapan akan tumbuh hasil panen yang bagus pula.

Allah Ta'alaa berfirman:
 وَالْبَلَدُ الطَّيِّبُ يَخْرُ‌جُ نَبَاتُهُ بِإِذْنِ رَ‌بِّهِ ۖ وَالَّذِي خَبُثَ لَا يَخْرُ‌جُ إِلَّا نَكِدًا

Artinya:
"Tanah yang bagus akan menumbuhkan tanaman (yang bagus) dengan izin Rabb-Nya dan tanah yang jelek tidak akan menumbuhkan kecuali..... (Q.S Al A'raf 58)

Agama kita Islam telah mendorong kita untuk memiliki istri shalihah yang penuh barokah, apabila suami keluar rumah, istri menjaga dirinya, anak-anaknya juga menjaga kehormatan suaminya.

Nabi shallahu 'alaihi wasallam bersabda:
  الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ

"Dunia ini perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah" H.R Imam Muslim

Dalam hadist riwayat Bukhari dan Muslim yang artinya:

"Wanita dinikahi karena empat: karena hartanya, keluarganya,kecantikannya dan karena agamanya, maka pilihlah yang beragama kamu akan beruntung"

Hadist diatas menjelaskan bahwa yang mendorong laki-laki untuk menikah salah satu dari empat perkara yang terakhir karena agamanya. "Pilihlah wanita karena agamanya maka kamu akan beruntung". rasulullah shallahu 'alaihi wasallam menyuruh laki-laki untuk memilih istri karena agamanya karena inilah yang terbaik (dari ketiga pilihan yang lain).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Nabi shallahu 'alaihi wasallam mengkhobarkan ketika beliau ditanya "Wanita mana yang paling baik?"

لآeliau shallahu 'alaihi wasallam menjawab:
التي تسره إذ نظر، وتطيعه إذا أمر، ولا تخالفه في نفسها وماله بما يكره

"Yang menyenangkan (suami) ketika dipandang, dan mentaatinya ketika diperintah, dan tidak melakukan yang dibenci suami baik pada dirinya maupun hartanya" (H.R An-nasai)

Maka: Mencari istri shalihah adalah hak anak yang pertama dan merupakan kewajiban orang tua sebelum kelahiran anak-anaknya di dunia.

Abul Aswad Ad Duali berkata kepada anaknya:

"Aku telah berbuat baik kepadamu anakku sejak kamu kecil sampai kamu besar bahkan sebelum kamu dilahirkan"

Mereka bertanya: "Bagaimana Engkau berbuat baik kepada kami sebelum kami lahir?"

Dia menjawab: " Aku telah memilih untuk kalian ibu (yang shalihah) yang kalian tidak akan bisa mencelanya"

begitu pula seorang wanita, hendaknya memilih laki-laki yang shalih, sehingga bisa saling tolong menolong dalam mendidik anak-anaknya dengan pendidikan yang shalih penuh kemaslahatan sebagai bentuk perwujudan 'ubudiyah/ibadah kepada Allah 'Azza wa Jalla.

KEDUA:

Ittiba' / mengikuti sunnah ketika jima': membaca do'a seperti yang ada dalam hadist Bukhari
بِسْمِ اللهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا

Artinya: " Bismillaah, Ya Allah jauhkanlah syaithon dari kami dan jauhkanlah syaithon dari apa yang Engkau karuniakan kepada kami"

Rasulullah shallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Kemudian apabila ditakdirkan keduanya dalam (jima') itu lahir seorang anak tidak bisa syaithon memberi mudharat kepadanya selamanya. "(H.R Bukhari)

Ittiba' mengikuti sunnah dalam perkara ini adalah perkara yang agung karena menunjukkan hakekat peribadatan yang sesungguhnya. Setiap hamba pasti menginginkan agar dirinya juga anak-anaknya dijauhkan dari gangguan syaithon, maka diapun mohon perlindungan kepada Allah Ta'ala dari gangguan syaithon juga mohon kepada Allah Ta'ala agar kelak anak yang akan terlahir dari sulbinya/tulang rusuknya dijauhkan pula dari godaan syaithon.

Perhatikan petunjuk Rasul shallahu 'alaihi wasallam yang mengandung kewajiban manusia dalam keadaan jima' dia diperintahkan untuk ittiba' mengikuti sunnah dan sunnah mengandung kebaikan yang banyak.

KETIGA:

Berdo'a kepada Allah Jalla Jalaaluh yang Maha Agung agar dikaruniai anak shalih. Ini adalah manhaj orang-orang diatas al haq.

Allah Ta'alaa berfirman:
 رَ‌بَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّ‌يَّاتِنَا قُرَّ‌ةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Artinya;

"Rabbanaa, hibahkanlah kepada kami pasangan-pasangan kami dan anak keturunan kami yang menjadi penyejuk mata dan jadikanlah kami imam (contoh yang baik) bagi orang-orang yang bertaqwa" (Q.S Al-Furqan:74)

Allah Ta'ala berfirman tentang Nabi Zakaria 'alaihis salaam:
  قَالَ رَ‌بِّ هَبْ لِي مِن لَّدُنكَ ذُرِّ‌يَّةً طَيِّبَةً ۖ إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

"(Zakariya) berkata: Rabbi hibahkan untukku dari sisimu keturunan yang baik sesungguhnya Engkau Maha Mendengar do'a"
(Q.S Al Imran:38)

Adapun istri Imron yang bernadzar janin yang ada didalam kandungannya untuk Allah Ta'ala, dia berkata:

"Rabbi, aku nadzarkan bayi dalam kandunganku untuk-Mu maka kabulkanlah do'aku, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui "
(Q.S Ali Imran:35)

Orang tua harus memperhatikan waktu-waktu mustajabahnya do'a, lalu berdo'a dengan khusyu' penuh harap dengan tawadhu' merendahkan diri kepada Allah Jalla wa Ala agar dia mengaruniakan anak keturunan yang shalih karena dengan lahirnya anak shalih dan shalihah akan membawa kemaslahatan dalam kehidupan manusia bahkan setelah kematiannya.

Hal ini seperti sabda Rasulullah shallahu 'alaihi wasallam:
  إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍَ:  صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

"Apabila manusia mati maka putuslah amalnya, kecuali dari 3: shadaqah jariyah atau ilmu yang bermanfaat atau do'a anak shalih" (H.R Muslim)

Inilah pahala kebaikan yang terus mengalir setelah wafatnya, betapa banyak kebaikan dan kemaslahatan dari anak yang shalih dan shalihah yang nampak dikehidupan dunia ini apalagi di akhirat kelak, tapi sayang banyak manusia tidak mengetahui!!

28 Nov 2014

HAK ANAK

Kitab :Huququl Awlad Álal Abaa wa Ummahat
(Muallif: Syeikh Abdullah Al Bukhari)


Diterjemahkan Oleh:
Ustadzah Ummu Abdillah Zainab binti Ali
(Ma'had As Sunnah Malang)


2. Ketaqwaan orang tua berdampak positif pada anak.
Allah Ta'ala berfirman:

Artinya: "Dan adalah kedua orang tuanya adalah orang sholih" ( QS Al-Kahfi : 82)
Ayat yang agung ini merupakan dalil yang jelas bahwa orang sholih akan di jaga anak-anaknya, bahwa ibadahnya dan ketaqwaannya kepada Allah Ta'ala serta pertolongan Allah Ta'ala kepadanya sehingga dia mampu mewujudkan hakekat ibadah yang sesungguhnya kepada Allah Ta'ala, juga barokah peribadatannya kepada Allah. Semua itu berdampak juga kepada anaknya dan barokah ibadah maka akan sampai pula kepada anak keturunannya, seperti mereka anak-anaknya mendapati syafaat dari orang tuanya, bahkan terangkat tinggi derajatnya didalam surga.Berkata Said ibnu jubair rahimahullah: dari Abdullah bin Abbas radhiallahu'anhu menjelaskan ayat diatas :


 

Beliau berkata menafsirkan :
"dijaga kedua anak-anaknya karena kesholihan orang tuanya. Dalam ayat tersebut tidak disebutkan kesholihan kedua anaknya tersebut, tapi kedua anak tersebut "dijaga" karena kesholihan orang tuanya.
Berkata Imam Muhammad ibnu Munkadir :
"sesungguhnya Allah Azza wa jalla sungguh-sungguh akan menjaga anak seseorang yang menjaga kesholihannya, bahkan terjaga anak cucunya dan anak turunnya akan terus menerus dijaga dan dilindungi oleh Allah Ta'ala.Berkata Al-Imam Ibnu katsir dalam tafsirnya mengenai ayat diatas surah Al-Kahfi : 82, :
"Dalam ayat diatas menjadi dalil bahwa orang yang sholih akan terjaga anak turunannya, akan sampai barokah dari ibadahnya kepada anak-anaknya didunia dan diakhirat dengan syafaat / pertolongan orang tuanya bahkan akan terangkat tinggi derajat mereka anak-anaknya dalam syurga agar supaya senang dan berbahagia orang tua dengan keberadaan anak-anaknya tersebut, sebagaimana hal itu dijelaskan dalam Al-Qur'an juga As-sunnah, kemudian beliau menyebutkan atsar ibnu Abbas radhiallahu'anhu diatas.

Seorang hamba yang memelihara dirinya, menjaga ibadah-ibadahnya kepada Allah, rasa takutnya kepada Allah baik ketika dia ridho atau marah, berusaha memberikan hak Allah jalla wa 'ala dengan sebaik-baiknya. Semua itu manfaatnya untuk dirinya juga bermanfaat untuk anak turunannya dan dapat memperbaiki keadaan anak-anaknya dengan izin Allah Ta'ala.
Akan tetapi bukan berarti setiap orang sholih anak-anaknya akan menjadi sholih juga, tidak seperti itu, itu bukan kepastian. Maka kita dapati bahkan Nabi Allah ada diantara anak-anaknya yang tidak menempuh jalan bapaknya. Sebagaimana telah lalu dijelaskan perkataan luqman kepada anaknya ketika menasehatinya :

Artinya: "Wahai anakku, janganlah engkau berbuat syirik kepada Allah, sesungguhnya syirik itu sungguh kezholiman yang paling besar"
(Qs Luqman:13)

Allah Ta'ala khobarkan bahwa Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yamg hidup.

Maksudnya (penterjemah): yang hidup adalah orang mukmin, dan yang mati adalah orang kafir.
Makna mengeluarkan yang hidup dari yang mati adalah mengeluarkan (lahir) mukmin dari oramg kafir, contohnya Nabi Ibrahim alaihissalam lahir dari bapaknya Azar yang kafir, sebaliknya Allah Ta'ala mengeluarkan yang mati dari yang hidup maknanya: mengeluarkan (lahir) kafir dari bapaknya yang mukmin, contohnya: anak-anaknya Nabi Nuh alaihissalam yang kafir.
Dari situ dipahami bahwa tidak selalu orang sholih keluarganya dan anak-anaknya sholih juga. Ini pengecualian, akan tetapi pada umumnya seperti tafsir
(Al. kahfi :82) diatas
(penterj)

Sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla yang artinya :
"Allah membuat permisalan untuk orang-orang kafir dengan istri Nuh dan istri Luth, keduanya dibawah kekuasaan dua hamba kami yang sholih, lalu keduanya mengkhianati (suaminya) maka Allah tidak membutuhkan sedikitpun dari kedua (istri) itu, dan akan dikatakan masuklah kalian berdua ke neraka bersama orang-orang yang masuk neraka" Qs. At Tahrim :10


Apakah kewajiban orangtua yang pertama kepada anak-anaknya?
 Kewajiban orangtua yang pertama dan utama kepada anak-anaknya adalah memperbaiki kehidupan akhirat mereka dan juga dunia mereka.

Allah Ta'ala berfirman :


"Wahai orang-orang yang beriman jagalah dari kalian dan keluarga kalian dari api neraka " Qs. At Tahrim : 6
Maka kewajiban pertama orangtua kepada anak-anaknya adalah :
"Memelihara mereka dari api neraka"!

Bahkan inilah yang paling afdhol didahulukan orangtua dari anak-anaknya.

Tapi yang sangat-sangat mengherankan, mudah didapati kenyataan sebagian orangtua yang merasa amat sangat sedih ketika nilai pelajaran anaknya jatuh, sedih orangtua berkepanjangan!!

Tapi sebaliknya ketika nilai-nilai keimanan serta akhlak anaknya jatuh orangtua tidak tersentuh hatinya, tidak ada kesusahan serta kesedihan, kecuali orang yang dirahmati Allaah, akan tetapi sayang jumlah mereka hanya sedikit !!

Apabila anak absen pelajaran, gelisah dan marahlah orangtua, tapi ketika putranya absen sholat berjamaah di masjid -khususnya anak laki-laki- engkau dapati sebagian orangtua bahkan mayoritas mereka tidak tergerak hatinya, tenang tanpa ada kemarahan!
Maka hanya kepada Allaah kita mengadu!

Padahal perkara-perkara tersebut sangat penting, Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda dalam hadit 'mutafaqun alaihi'
"Tidaklah seorang hamba yang diberi kepemimpinan oleh Allaah, lalu dia tidak menjaganya dengan memberi nasehat, kecuali dia tidak mencium wangi surga"

Dan tidak diragukan bahwa kerugian paling besar bagi seseorang adalah : dia yang rugi dirinya sendiri dan rugi keluarganya pada hari kiamat. Wal iyadzubillah..

Allah Ta'ala berfirman :


Artinya :
Katakanlah: "Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri sendiri dan keluarganya pada hari kiamat". Ingatlah yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.
(Qs Az-Zumar : 15)


Jeleknya pendidikan anak berdampak buruk terhadap anak juga untuk masyarakat bahkan untuk negara. 
Berkata Abdul Rahman bin Nasir As- Sa'diy :
"Adapun mengabaikan anak-anak mudharatnya besar, sangat berbahaya.
Bagaimana pendapatmu andaikata engkau mempunyai kebun lalu engkau rawat kebunmu itu sehingga subur pohon-pohonnya, berbuah banyak, juga subur dan indah bunga-bunganya, tapi kemudian engkau abaikan kebun tersebut, engkau tinggalkan tidak lagi engkau jaga, tidak engkau sirami, tidak engkau bersihkan dari penyakit-penyakit tanaman.

Bukankah itu puncak kebodohan dan kedunguan?

Lalu bagaimana engkau abaikan anak-anakmu padahal mereka adalah buah hatimu, darah dagingmu, bahkan foto copy mu, bagian dari jiwamu, dia penggantimu, hidup dan matimu, yang kebahagiaan mereka merupakan kebahagiaanmu, dan kesuksesan mereka engkaupun dapati kebaikan yang banyak.


"Tidak ada yang bisa mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang memiliki hati"
Qs. Al Imran :7

Bersambung insyaAllaah..

HAK ANAK

Kitab :Huququl Awlad Álal Abaa wa Ummahat
(Muallif: Syeikh Abdullah Al Bukhari)

Diterjemahkan Oleh:
Ustadzah Ummu Abdillah Zainab binti Ali
(Ma'had As Sunnah Malang)




Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda dalam hadits yang mahsyur riwayat Bukhari dan Muslim, yang artinya :

"Setiap kalian adalah pemimpin , dan setiap kalian akan ditanya tentang kepemimpinannya, maka seorang imam yang memimpin manusia adalah pemimpin dan dia ditanya tentang kepemimpinannya, dan seorang laki-laki adalah pemimpin dan akan ditanya tentang kepemimpinannya..."
Berkata Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah :
"Betapa banyaknya anak yang sengsara, menderita dunia dan akhirat dikarenakan orangtuanya yang mengabaikannya, tidak mendidiknya, bahkan dia merasa telah memuliakan anaknya. Padahal dia telah mengabaikannya.
Dia mengira telah menyayangi anaknya, padahal hakekatnya dia telah mendholiminya.
Hilanglah kesempatan untuk mendapatkan manfaat dari anaknya, dia rugi di dunia dan akhiratnya.
Dan jika kamu memperhatikan kerusakan pada anak, maka kamu dapati mayoritas penyebabnya adalah orangtuanya."
(Dari kitab :Tuhfatul Maudud Bi Ahkaamil Maulud ,hal 351)



 
 Beliau juga berkata :
"Mayoritas kerusakan kerusakan anak-anak karena orangtuanya yang mengabaikan mereka, tidak mendidik mereka, mengajarkan kewajiban-kewajiban agama dan sunnah-sunnahnya.
Mereka sia-siakan anak-anaknya di masa kecilnya.
Maka akhirnya orangtua tidak memperoleh manfaat dimasa dewasanya, sehingga yang terjadi ketika sebagian orang mencela anaknya yang durhaka, spontan si anak menjawab :
"Wahai ayahku engkau telah durhaka kepadaku ketika aku masih kecil, engkau sia-siakan aku dimasa kecilku, maka akupun menyia-nyiakanmu dimasa tuamu"
(Dari kitab : Tuhfatul Maudud Bi Ahkaamil Mauluud ,hal 337)
Oleh karena itulah anak mempunyai hak atas orangtuanya, yang harus diberikan kepada anak-anaknya, dan kelak akan ditanya setiap orangtua dihadapan Allaah azza wa jalla tentang anak-anaknya.
Kami akan jelaskan permasalahan penting ini dalam dua poin berikut ini :
1.Pertama : Makna Ál Haq dan maksudnya
Kami katakan : "Sesungguhnya anak-anak mempunyai haq atas orangtua mereka"
>>Apa maksud 'Haq" disini?
“Al Haq” lawannya ''Al Baathil''
(Haq lawan katanya Bathil)
>>Al Haq adalah salah satu dari nama-nama Allaah azza wa jalla.
>>Al haq juga mengandung banyak makna, antara lain :
( Adil, Islam, Milik, Jujur/benar, kematian)
Dan lain lain
>>(Al haq )~ mufrod, tunggal. Bentuk jamaknya “Ál Huququ”
Demikianlah makna Al Haq secara bahasa.
Adapun makna Al Haq ditinjau dari syari'at adalah:
bahwa Al Haq dihubungkan dengan ketetapan hukum, kita tau bahwa hukum (syariat) lebih umum dari sekedar "Wajib" atau "Sunnah".
Maka hukum yang tsabit kadang-kadang Wajib, atau kadang-kadang Mandub/ Sunnah, dan kadang-kadang Mubah.

Misalnya dalam hadits Abu Hurairah radhiallahuanhu berkata, bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda :
"Hak muslim terhadap sesama muslim ada 5 (lima):
Menjawab salam, menjenguk orang sakit, mengantar jenazah, mendatangi undangan, dan mend'akan bagi yang bersin"
(HR.Bukhari Muslim)
Kata Haq dalam hadits ini pada :
1. Mengunjungi orang sakit
2. Mengantar jenazah
Maknanya : Mandub/Sunnah
Adapun mendatangi undangan hukumnya
a. Terkadang Wajib, jika undangan khusus dan dalam acara tersebut tidak ada kemungkaran yang menghalangi untuk didatangi
b. Terkadang Sunnah, jika undangan umum bukan undangan khusus

Keterangan pent.:
Undangan khusus maksudnya : yang diundang sedikit,orang-orang tertentu saja
Undangan Umum maksudnya : yang diundang banyak orang.

Dan "mendoakan orang yang bersin"
Keterangan pent : dengan ucapan “yarhamukallah (semoga Allaah merahmatimu)
Makna Haq disini adalah 'Wajib'.
Jadi makna Haq dalam kajian kita ini, mengandung makna Wajib atau Mandub/Sunnah
Maknanya : Haq anak yang Wajib diterimanya, atau yang Sunnah diterima oleh anak.

Bersambung insyaaAllaah...

16 Nov 2014

HAK ANAK

Kitab :Huququl Awlad Álal Abaa wa Ummahat
(Muallif: Syeikh Abdullah Al Bukhari)
 

Diterjemahkan Oleh:
Ustadzah Ummu Abdillah Zainab binti Ali
(Ma'had As Sunnah Malang)

Bismilah walhamdulillah wassholatu wassalamu ala rosulillah wa man waalah amma ba'du:

Akhowaty fillah rohimani wa rohimakumullah dengan izin dan ridho Allah Ta'aala kita memulai kajian kitab "Huquuqul Awlad 'alal Abaa wa Ummahat "  

kajian dari kitab Huquuqul Awlad
Yg maknanya Hak-hak Anak Terhadap para Bapak dan Ibu adalah bisa bermakna "kewajiban orang tua terhadap anak" yg ditulis oleh Syeikh Dr. Abdullah bin Abdurrahim Al Bukhari Hafidhahullah,beliau adalah dosen Fakultas Hadits di Jamiah Islamiyyah Madinah

Dalam muqoddimah setelah memuji Allah beliau menulis:
"Saudaraku tidak diragukan bahwa hubungan antara anak dan orang tuanya sangat erat,dan ini merupakan nikmat dari Allah Ta'ala kepada hamba yang mukmin.
Eratnya hubungan tersebut nampak jelas bagi yang memperhatikan Al Qur'an dan As Sunnah.

Perhatikan wasiat Allah Ta'ala dalam Surah An-Nisa'11 yg artinya:
"Allah  wasiatkan kepada kalian tentang anak-anak kalian".

Kita tahu wasiat hanya ada dalam dan untuk sesuatu yang muhim/penting.    

Juga kita dapati bahwa para nabi telah menampakkan akhlaq mulia kepada bapak-bapak mereka dan mendakwahi mereka kepada al-haq.

Sebagai contoh Nabi Ibrohim 'alaihissalam ketika berkata kepada bapaknya dalam firman Allah Ta'ala surah Al An'am:74


وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لأبِيهِ آزَرَ أَتَتَّخِذُ أَصْنَامًا آلِهَةً إِنِّي أَرَاكَ وَقَوْمَكَ فِي ضَلالٍ مُبِينٍ
"dan ketika Ibrohim berkata kepada bapaknya Azar apakah engkau menjadikan berhala sebagai sesembahan,sungguh aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata".

Dalam ayat lain surah Maryam:42
إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ‌ وَلَا يُغْنِي عَنكَ شَيْئًا
"Ketika dia (Ibrohim)berkata kepada bapaknya wahai Bapakku mengapa kamu beribadah kepada sesuatu yang tidak bisa mendengar dan melihat dan tidak bermanfaat untukmu sedikitpun".

Juga kita dapatkan dalam Al-Quran percakapan para nabi alaihimusholatu wassalam kepada anak-anak mereka dengan cara yang santun lembut penuh kasih sayang.misalnya:

Dalam surah Al Baqoroh:133
أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوْبَ اْلمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيْهِ مَا تَعْبُدُوْنَ مِنْ بَعْدِي قَالُوْا نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيْمَ وَإِسْمَاعِيْلَ وَإِسْحَاقَ إِلَهَا وَاحِدًا وَنَحنُ لَهُ مُسْلِمُوْنَ
Allah Ta'ala berfirman;
"Apakah kalian menyaksikan ketika hampir datang kematian Ya'qub, ketika dia berkata kepada anaknya apakah yang akan kalian ibadahi setelah (kematian)ku nanti. Mereka menjawab kami beribadah kepada Tuhanmu dan Tuhan bapakmu Ibrohim Ismail dan Ishaq Tuhan yang satu dan kami berserah diri kepada-Nya".

Berkata Ibrohim Alkholil kepada anaknya Ismail. Dalam surah Ash Shofaat:102 :
قَالَ يَابُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَى
"duhai anakku sesungguhnya aku bermimpi menyembelihmu, bagaimana pendapatmu?".

Dan berkata Luqman kepada anaknya. Dalam surah Luqman:13:
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لاِبْنِهِ وَهُوَيَعِظُهُ يَابُنَيَّ لاَتُشْرِكْ بِاللهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ
"wahai anakku janganlah kamu menyekutukan ALLAH sesungguhnya syirik itu benar-benar kedholiman yang besar".

Adapun dalam Sunnah juga banyak dijelaskan kuatnya hubungan orang tua dan anak.
antara lain dlm hadits Riwayat An Nasai.

Rosulullah alaihisholatu wassalam bersabda:
"Sesungguhnya Allah akan bertanya kepada setiap pemimpin tentang yang dipimpin,apakah dijaga atau disia-siakan, sampai akan bertanya kepada seorang lelaki tentang keluarga
nya".

Bersambung Insyaa Allah....